Karena, orang Minang kebanyakan berdagang ritel di pasar dan masih berjualan saat malam takbiran.

Puncak ramainya pembeli adalah paska pembagian THR sampai malam takbiran.

Sebenarnya, secara umum orang Minang termasuk jarang mudik lebaran. Alasannya adalah karena ekonomi. Mereka yang ekonominya masih “struggle” jarang sekali mudik, bahkan bertahun-tahun. Tidak mudik 5 sampai 10 tahun adalah biasa. Mereka hanya mengirim uang saja ke kampung.

Lho, bukannya saat lebaran di Sumbar itu macet di mana-mana dengan kendaraan dari Jakarta, Medan dan Riau? Ya, yang sering mudik adalah mereka yang ekonominya sudah mapan.

Mereka yang ekonominya masih di bawah bahkan “dilarang” oleh orang tuanya untuk mudik. Lebih baik uangnya disimpan saja untuk diputar membesarkan usaha dagang dari pada dihambur-hamburkan saat mudik. Kalau pun “terpaksa” mudik, biasanya karena ada urusan penting, seperti ada hajat atau ada yang sakit dan meninggal.

Mereka baru “diijinkan” mudik setelah ekonominya stabil. Tanda ekonominya sudah stabil adalah dengan memiliki toko, tidak ngontrak lagi. Rumah dan mobil adalah prioritas berikutnya setelah toko atau tempat usaha.

Ada pepatah Minang mengatakan “di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung”. Artinya, orang Minang menganggap bahwa di mana pun merantau, ia menganggap daerah itu sebagai kampung halaman keduanya. Mereka beradaptasi dan berasimilasi dengan penduduk dan budaya setempat. Bahkan banyak yang menikah dengan orang setempat. Jadi, mereka merasa sudah memiliki kampung sendiri.

Satu hal lagi yang membuat orang Minang malas mudik adalah karena di kampung sudah tidak ada keluarga lagi lantaran sebagian besar merantau. Rumah-rumah banyak yang kosong. Pulang kampung malah membuat mereka sedih.

Sebagian besar keluarga mereka ada di rantau. Jadi, silaturahimnya tidak di kampung lagi, melainkan di rantau.